Banyak yang mengatakan pernikahan muda membawa dampak yang kurang baik bagi kedua pasangan.banyak juga yang mengatakan pernikahan pasangan muda lebih sulit karena emosi ataupun kesiapan mental spiritual pasangan tersebut belum cukup.
hmm...alhamdullilah atas seizin Allah.aku termasuk salah satu 'pelaku' nikah muda loo..hehe kok bangga? ya iyaa bangga...aku bersyukur Allah memberi proses jalan hidup yang sangat indah yg telah kulalui di usiaku yang masih muda....
Saat menikah usia kami masih sama sama muda..suamiku baru lulus AKPOL saat itu dia masih 22 tahun,dan aku sendiri baru lulus SMA dan usiaku 18 tahun. terus terang di keluarga besarku yang notabene adalah golongan bukan pengikut aliran nikah muda, sewaktu aku memutuskan menikah muda banyak yang terkejut. Alhamdulillah mereka merestui dan mendoakan kami .akupun yakin keputusanku menikah muda dikarenakan jalan yang harus kulalui ini atas seizin Allah. tidak ada yang tahu apa rencana Allah terhadap umatnya.
Setelah pernikahan, tak ada bulan madu layaknya pasangan lain. suamiku harus kembali dinas, karena tidak ada cuti panjang dari kantornya. tugas dan tanggung jawab istri kulakukan,aku ikut suamiku yang dinas di Ambon. selain sebagai istri aku juga aktif di organisasi Bhayangkari, kuliah di Unpatti juga kujalani. kunikmati semua kehidupan baruku dengan suka cita. walau aku tahu gaji polisi tidak besar, tapi aku berusaha menikmati semua dengan ikhlas. tak ada kehidupan mewah layaknya sinetron. aku hidup sederhana di asrama, kalau mandi pun harus menimba di sumur, belanja ke pasar naik angkutan umum..semua kulakukan dengan ikhlas. di Ambon pula aku dapat pengalaman besar yang menguatkan dan mendewasakan aku,saat kerusuhan di Ambon terjadi dan aku terjebak didalamnya. aku bermetamorfosa dari anak muda yang manja dan egois berubah jadi wanita yang lebih tegar untuk survive di kehidupan yang saat itu tak kondusif.
Angin segar berhembus pada kami, karena suami mutasi ke Polda Jabar. aku bersyukur bisa kembali ke tanah jawa, bisa berkumpul dengan orangtua dan sanak saudara. saat itu kami memulai dari nol lagi,karena saat kerusuhan tak banyak barang yang bisa kami kumpulkan. di tempat baru kami asrama purwakarta tak banyak barang di rumah, hidup kami jauh lebih sederhana daripada di Ambon. kehidupan terasa lebih berat apalagi kami sudah dikaruniai putri kecil. dan sekali lagi kami ikhlas menjalani hari hari kami di Purwakarta...
Alhamdulillah..Allah mengabulkan doa kami, perubahan ekonomi membaik seiring dimutasinya suami ke polres Karawang. kami akhirnya bisa merasakan hidup lebih nyaman.
kemudian suami mendapat mutasi ke Polda..kamipun pindah ke kota Bandung. karena tak dapat rumah dinas maka kami mencari kontrakan rumah di daerah margahayu yang letaknya tak jauh dari polda.di Bandung aku hamil dan melahirkan anak kedua, rutinitas iburumah tangga kulalui seperti biasa. baru 8 bulan tinggal di Bandung, aku dapat kabar kalau suamiku lulus tes pendidikan PTIK ditahun 2003. kamipun boyongan pindah ke Jakarta,karena harus menempuh pendidikan selama 2tahun disana.
Babak baru kumulai lagi saat selesai pendidikan,suamiku penempatan di Polda Sulawesi Tengah. satu yang terbayang di benakku...aduuh kenapa mesti di daerah konflik lagi? tapi aku yakin Allah selalu memberikan yang terbaik bagi umatNya. maka akupun yakin inilah jalan yang harus kami lalui....
singkat cerita kamipun boyongan ke kota Palu,ternyata kota ini lebih sepi dibandingkan Ambon dulu. yaa itung itung kami bisa jauh lebih irit..kan ngga ada mall dan tempat hiburan hehe..
karena kami disana juga tak kebagian rumah dinas,mengontraklah kita disana. Lokasi rumah yang tak jauh dari laut membuat udara tiap hari segar..bagus buat terapi anak anak kami yang alergi debu.
Kegiatan sore yang menyenangkan bagi anak anakku adalah liat binatang kuda,sapi,kambing liar yang lalu lalang didepan rumah. tak jarang tiba2 ada sapi atau kambing lagi makan tanaman di halaman rumah atau teras yang ada kotoran kambing dan ada kambing tidur di teras karena pembantu suka lupa menutup pagar rumah.
Keadaan Poso yang saat itu tidak kondusif membuat aku sering ditinggal suami yang tugas ke Poso.walhasil karena suami jarang di rumah mandirilah aku. mulai dari bocor,listrik,anak sakit dll kutangani sendiri.
Dua tahun di Palu tiba tiba datang surat mutasi suami ke Mabes Polri, kamipun boyongan lagi ke Jakarta. mengingat anak sudah beranjak besar,kami memaksakan diri mencari rumah untuk menetap supaya kalau suamiku pindah anak2 tak repot ikut sana sini. baru 3 tahun di Jakarta, suamiku harus mutasi lagi ke Banten.
Sudah lima bulan ini suamiku bertugas di Polda Banten, cuma aku dan anak anak memutuskan tidak ikut pindah..mengingat anak pertamaku yang persiapan UAN juga jarak Banten-Jakarta yang ga terlalu jauh.
Alhamdulillah perjalanan pernikahan kami menginjak 12 tahun,sudah dikaruniai sepasang anak yang sehat dan pintar. perjalanan kami tak semulus cerita dongeng, banyak ujian yang kami hadapi. sandungan pun berkali kali kami alami. semua itu kami anggap sebagai proses pendewasaan kami dalam membina rumah tangga.
Insyaallah walau kami mengawali dengan menikah muda tetap bisa mengantarkan anak anak kami menuju keberhasilan, menemani mereka saat pernikahan dan bersama sama mengasuh cucu kelak. tentu semua atas ridho dan petunjuk Allah SWT.amin amin ya rabb







0 komentar:
Post a Comment